Mengatur keuangan bulanan merupakan salah satu kebiasaan penting untuk menjaga kondisi keuangan tetap terarah. Tanpa perencanaan, penghasilan yang sebenarnya cukup dapat terasa cepat habis karena digunakan untuk berbagai kebutuhan yang tidak selalu direncanakan.
Masalah keuangan tidak selalu muncul karena seseorang memiliki penghasilan yang kecil. Pengeluaran yang tidak tercatat, pembelian impulsif, cicilan, dan tidak adanya batas anggaran juga dapat membuat uang sulit dikendalikan.
Karena kondisi setiap orang berbeda, tidak ada satu pola pembagian penghasilan yang cocok untuk semua orang. Yang lebih penting adalah memahami jumlah pemasukan, menentukan prioritas, dan membuat batas pengeluaran berdasarkan kemampuan sendiri.
Mengapa Keuangan Bulanan Perlu Diatur?
Penghasilan yang diterima setiap bulan biasanya digunakan untuk berbagai kebutuhan dalam waktu yang berbeda.
Ada kebutuhan yang harus dibayar segera, seperti makanan, transportasi, tempat tinggal, listrik, atau tagihan. Ada pula pengeluaran yang dapat direncanakan, seperti tabungan, pendidikan, hiburan, dan pembelian barang tertentu.
Tanpa pembagian yang jelas, uang untuk kebutuhan utama dapat tercampur dengan uang untuk keinginan.
Dengan membuat anggaran, kita dapat mengetahui:
- Berapa penghasilan yang tersedia.
- Berapa biaya kebutuhan utama.
- Berapa jumlah cicilan atau kewajiban.
- Berapa uang yang dapat ditabung.
- Berapa dana yang dapat digunakan untuk kebutuhan tambahan.
- Bagian mana yang perlu dikurangi.
1. Hitung Total Penghasilan Bersih
Langkah pertama adalah mengetahui jumlah uang yang benar-benar dapat digunakan setiap bulan.
Jika memiliki lebih dari satu sumber penghasilan, catat semuanya secara terpisah.
Contohnya:
| Sumber | Jumlah |
|---|---|
| Penghasilan utama | Rp4.000.000 |
| Penghasilan tambahan | Rp500.000 |
| Total | Rp4.500.000 |
Gunakan angka yang realistis. Jika penghasilan tambahan tidak selalu diterima setiap bulan, jangan menganggapnya sebagai pemasukan tetap.
Untuk membuat anggaran yang lebih aman, kebutuhan rutin sebaiknya disusun berdasarkan penghasilan yang paling pasti diterima.
2. Catat Semua Pengeluaran
Setelah mengetahui pemasukan, catat pengeluaran.
Jangan hanya mencatat tagihan besar. Pengeluaran kecil juga perlu diperhatikan karena jika dilakukan berulang kali jumlahnya dapat menjadi cukup besar.
Contohnya:
- Makan.
- Transportasi.
- Pulsa dan internet.
- Tagihan rumah.
- Belanja kebutuhan sehari-hari.
- Langganan aplikasi.
- Hiburan.
- Belanja online.
- Cicilan.
Catatan tersebut dapat membantu menemukan kebiasaan yang sebelumnya tidak disadari.
3. Pisahkan Kebutuhan dan Keinginan
Salah satu langkah penting dalam mengatur keuangan adalah membedakan kebutuhan dengan keinginan.
Kebutuhan adalah pengeluaran yang diperlukan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari atau memenuhi kewajiban.
Keinginan merupakan pengeluaran yang dapat ditunda atau tidak harus dipenuhi segera.
Contohnya, membeli makanan untuk makan sehari-hari merupakan kebutuhan. Namun, memesan makanan tambahan karena sedang ada promo belum tentu menjadi kebutuhan.
Perbedaannya tidak selalu sama bagi setiap orang. Yang penting adalah menentukan prioritas berdasarkan kondisi masing-masing.
4. Buat Anggaran Sebelum Bulan Dimulai
Jangan menunggu sampai uang hampir habis untuk mulai menghitung pengeluaran.
Sebelum menerima atau menggunakan penghasilan bulanan, buat perkiraan untuk kebutuhan yang akan datang.
Misalnya:
- Kebutuhan rumah tangga.
- Transportasi.
- Tagihan.
- Cicilan.
- Tabungan.
- Pendidikan.
- Kebutuhan pribadi.
Anggaran tersebut tidak harus sempurna.
Jika terdapat perbedaan antara perkiraan dan pengeluaran sebenarnya, gunakan informasi tersebut untuk memperbaiki anggaran bulan berikutnya.
5. Tentukan Prioritas Pengeluaran
Jika penghasilan terbatas, kebutuhan harus diurutkan berdasarkan tingkat kepentingannya.
Contohnya:
Prioritas pertama: kebutuhan pokok dan kewajiban pembayaran.
Prioritas kedua: tabungan atau dana yang memang sudah direncanakan.
Prioritas ketiga: kebutuhan tambahan.
Prioritas berikutnya: hiburan dan pengeluaran yang dapat ditunda.
Urutan tersebut dapat berubah sesuai kondisi.
Seseorang yang memiliki kebutuhan keluarga, biaya pendidikan, atau kewajiban tertentu tentu memiliki prioritas yang berbeda.
6. Sisihkan Tabungan Secara Teratur
Jika ingin memiliki tabungan, jangan selalu menunggu uang tersisa pada akhir bulan.
Tentukan jumlah yang realistis dan sisihkan secara rutin.
Misalnya, jika kemampuan menabung adalah Rp300.000 per bulan, masukkan jumlah tersebut ke dalam anggaran sejak awal.
Namun, jangan memaksakan jumlah tabungan sampai kebutuhan dasar tidak terpenuhi atau kewajiban pembayaran terganggu.
Konsistensi lebih penting daripada menetapkan target yang terlalu tinggi tetapi tidak dapat dipertahankan.
7. Pisahkan Uang Berdasarkan Kebutuhan
Uang yang digunakan untuk semua kebutuhan sebaiknya tidak tercampur jika pemisahan memungkinkan.
Misalnya, buat beberapa pos:
- Kebutuhan sehari-hari.
- Tagihan.
- Tabungan.
- Transportasi.
- Kebutuhan pribadi.
Pemisahan dapat dilakukan menggunakan rekening berbeda, dompet digital, atau sekadar pencatatan di aplikasi maupun buku.
Tujuannya adalah agar jumlah uang untuk masing-masing kebutuhan dapat diketahui.
8. Berhati-hati dengan Pengeluaran Kecil
Pengeluaran kecil sering kali dianggap tidak terlalu berpengaruh.
Misalnya membeli makanan ringan, minuman, atau melakukan pembelian kecil secara online.
Satu transaksi mungkin tidak terasa berat. Namun jika dilakukan hampir setiap hari, jumlahnya dapat memengaruhi anggaran bulanan.
Karena itu, tidak perlu langsung menghilangkan semua pengeluaran kecil. Cukup catat dan lihat totalnya pada akhir bulan.
Dari sana dapat diketahui apakah pengeluaran tersebut memang sesuai dengan anggaran.
9. Kurangi Pembelian Impulsif
Pembelian impulsif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu secara spontan tanpa perencanaan.
Beberapa pemicunya antara lain:
- Diskon.
- Gratis ongkos kirim.
- Promosi dengan batas waktu.
- Iklan.
- Tren.
- Rasa takut kehabisan.
Sebelum membeli, coba berikan jeda.
Tanyakan:
“Apakah barang ini memang saya perlukan?”
Jika jawabannya tidak, pertimbangkan untuk menunda pembelian.
Jika setelah beberapa hari masih merasa membutuhkan dan anggarannya tersedia, keputusan pembelian dapat dipertimbangkan kembali.
10. Periksa Langganan yang Tidak Digunakan
Layanan berlangganan sering kali dibayar secara otomatis.
Contohnya:
- Aplikasi hiburan.
- Penyimpanan cloud.
- Aplikasi produktivitas.
- Layanan digital lainnya.
Periksa semua langganan secara berkala.
Jika ada layanan yang jarang digunakan, pertimbangkan apakah masih diperlukan.
Menghentikan satu biaya kecil mungkin terlihat tidak signifikan, tetapi penghematan tersebut dapat dilakukan berulang setiap bulan.
11. Gunakan Diskon Secara Bijak
Diskon dapat membantu menghemat jika digunakan untuk membeli sesuatu yang memang sudah direncanakan.
Namun, membeli barang yang tidak diperlukan hanya karena harganya sedang turun bukan berarti menghemat.
Misalnya sebuah barang seharga Rp200.000 mendapatkan diskon menjadi Rp150.000.
Jika barang tersebut tidak dibutuhkan, uang Rp150.000 tetap merupakan pengeluaran.
Karena itu, pertanyaan pertama bukan:
“Berapa besar diskonnya?”
tetapi:
“Apakah saya memang membutuhkan barang ini?”
12. Siapkan Dana untuk Pengeluaran Tidak Terduga
Anggaran bulanan sebaiknya tidak hanya berisi pengeluaran yang sudah diketahui.
Kebutuhan tidak terduga dapat muncul kapan saja.
Contohnya:
- Kendaraan membutuhkan perbaikan.
- Peralatan rumah tangga rusak.
- Ada kebutuhan keluarga.
- Perjalanan mendadak.
- Biaya lain yang tidak direncanakan.
Menyediakan dana khusus untuk kondisi seperti ini dapat membantu mengurangi kebutuhan menggunakan uang yang sudah dialokasikan untuk keperluan lain.
13. Berhati-hati dengan Cicilan
Cicilan dapat membuat suatu barang terlihat lebih terjangkau karena pembayaran dibagi dalam beberapa periode.
Namun, yang perlu diperhatikan adalah total kewajiban yang harus dibayar.
Sebelum mengambil cicilan, periksa:
- Jumlah pembayaran setiap periode.
- Total pembayaran.
- Biaya atau bunga yang berlaku.
- Jangka waktu.
- Denda atau biaya jika terjadi keterlambatan.
- Dampaknya terhadap anggaran bulanan.
Jangan hanya melihat nominal pembayaran per bulan tanpa memperhitungkan seluruh kewajiban.
14. Jangan Menutup Pengeluaran dengan Utang Baru
Ketika uang bulanan habis, mengambil utang baru untuk membayar kebutuhan rutin dapat membuat masalah keuangan semakin panjang.
Jika hal tersebut sering terjadi, lakukan evaluasi.
Periksa apakah:
- Pengeluaran rutin terlalu besar.
- Cicilan sudah terlalu banyak.
- Anggaran tidak sesuai dengan penghasilan.
- Ada pengeluaran yang dapat dikurangi.
- Penghasilan perlu ditingkatkan.
Utang bukan sekadar masalah pembayaran bulan ini karena kewajiban tersebut akan memengaruhi anggaran pada periode berikutnya.
15. Tentukan Batas untuk Hiburan
Mengatur keuangan bukan berarti semua uang harus digunakan untuk kebutuhan wajib dan tabungan.
Hiburan juga dapat menjadi bagian dari anggaran jika kondisi keuangan memungkinkan.
Yang penting adalah menentukan batas.
Misalnya, seseorang menyediakan sejumlah uang tertentu setiap bulan untuk makan di luar atau aktivitas hiburan.
Jika batas tersebut sudah tercapai, pengeluaran tambahan dapat ditunda sampai periode berikutnya.
Dengan cara ini, kebutuhan hiburan tetap dapat dinikmati tanpa mengganggu pos lain.
16. Evaluasi Pengeluaran Setiap Minggu
Tidak perlu menunggu sampai akhir bulan untuk mengetahui kondisi keuangan.
Luangkan beberapa menit setiap minggu untuk memeriksa:
- Total pengeluaran.
- Sisa anggaran.
- Tagihan yang belum dibayar.
- Tabungan yang sudah disisihkan.
- Pengeluaran yang tidak direncanakan.
Evaluasi mingguan dapat membantu menemukan masalah lebih awal.
Jika pengeluaran sudah terlalu besar pada pertengahan bulan, masih ada waktu untuk melakukan penyesuaian.
Contoh Anggaran Keuangan Bulanan
Sebagai contoh, seseorang memiliki penghasilan bersih Rp5.000.000 per bulan.
Anggaran sederhana dapat dibuat seperti berikut:
| Pos | Anggaran |
|---|---|
| Kebutuhan utama | Rp2.500.000 |
| Transportasi | Rp500.000 |
| Tabungan | Rp750.000 |
| Tagihan dan kebutuhan rutin | Rp500.000 |
| Kebutuhan pribadi/hiburan | Rp350.000 |
| Dana fleksibel | Rp400.000 |
| Total | Rp5.000.000 |
Angka tersebut hanya contoh dan tidak harus diterapkan oleh semua orang.
Jika biaya tempat tinggal atau kebutuhan keluarga lebih besar, pembagian tentu harus disesuaikan.
Prinsip utamanya adalah memastikan seluruh pengeluaran memiliki tempat dalam anggaran.
Bagaimana Jika Penghasilan Tidak Tetap?
Orang yang memiliki penghasilan tidak tetap membutuhkan pendekatan yang sedikit berbeda.
Jangan membuat anggaran berdasarkan pemasukan tertinggi yang pernah diterima.
Lebih aman menggunakan perkiraan penghasilan yang realistis atau konservatif untuk kebutuhan rutin.
Jika mendapatkan pemasukan lebih besar pada suatu bulan, sebagian dapat digunakan untuk:
- Menambah tabungan.
- Menyiapkan kebutuhan bulan berikutnya.
- Membayar kewajiban lebih awal jika sesuai ketentuan.
- Menambah dana untuk kebutuhan tidak terduga.
Dengan begitu, pemasukan yang lebih besar tidak langsung habis untuk pengeluaran tambahan.
Cara Mengatasi Keuangan yang Sering Bocor
Jika setiap bulan merasa uang cepat habis, lakukan pemeriksaan sederhana.
Langkah pertama
Catat semua pengeluaran selama satu bulan.
Langkah kedua
Kelompokkan berdasarkan jenisnya.
Langkah ketiga
Cari tiga kategori dengan pengeluaran terbesar.
Langkah keempat
Tentukan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang dapat dikurangi.
Langkah kelima
Buat batas pengeluaran baru untuk bulan berikutnya.
Jangan mencoba mengubah semuanya sekaligus.
Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah diperbaiki.
Checklist Mengatur Keuangan Bulanan
Gunakan checklist berikut:
- Menghitung penghasilan bersih.
- Mencatat semua pengeluaran.
- Memisahkan kebutuhan dan keinginan.
- Menentukan prioritas.
- Membuat anggaran bulanan.
- Menyisihkan uang untuk tabungan.
- Memeriksa langganan yang tidak digunakan.
- Membatasi pembelian impulsif.
- Memeriksa cicilan dan kewajiban.
- Menyediakan dana untuk kebutuhan tidak terduga.
- Mengevaluasi pengeluaran setiap minggu.
- Membuat evaluasi pada akhir bulan.
Kesimpulan
Mengatur keuangan bulanan tidak berarti harus menghilangkan semua pengeluaran yang menyenangkan. Tujuannya adalah memastikan penghasilan digunakan sesuai dengan prioritas dan kemampuan.
Mulailah dengan mengetahui jumlah penghasilan, mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menentukan batas untuk setiap pos.
Tidak perlu menggunakan metode yang rumit. Pencatatan sederhana yang dilakukan secara konsisten sudah dapat membantu melihat kondisi keuangan dengan lebih jelas.
Jika ada pengeluaran yang terlalu besar, lakukan penyesuaian secara bertahap. Evaluasi setiap bulan dan gunakan hasilnya untuk membuat anggaran berikutnya.
Dengan kebiasaan tersebut, pengelolaan keuangan dapat menjadi lebih teratur dan keputusan mengenai penggunaan uang dapat dibuat dengan lebih sadar.